Karakteristik Wilayah PDF Cetak E-mail

 


1.                         Geografis

 

               Dengan telah disahkannya Undang Undang Nomor 32 Tahun 2008 tentang Kabupaten Buru Selatan, maka luas wilayah Kabupaten Buru telah berkurang menjadi 7.594,98 Km² yang terdiri dari luas daratan 5.577,48 Km² dan luas lautan/perairan 1.972,50 Km² dengan panjang garis pantai 232,18 Km². Sedangkan berdasarkan letak astronomi, Kabupaten Buru berada pada titik koordinat :

 

o              Bujur Timur                            :     125070’ – 127021’ BT

o              Lintang Selatan                       :     2025’ – 3055’ LS

 

         Secara fisik, Kabupaten Buru dibatasi oleh :

 

o              Sebelah Barat                         :     Laut Banda dan Kabupaten Buru Selatan

o              Sebelah Timur                        :     Selat Manipa

o              Sebelah Utara                         :     Laut Seram

o              Sebelah Selatan                      :     Laut Banda dan Kabupaten Buru Selatan

 

2.                         Bentuk dan Topografi

 

               Secara fisiografi (makro relief), bentuk wilayah Kabupaten Buru dikelompokan berdasarkan dataran, pantai dan perbukitan termasuk dataran tinggi (plateau/pedmont) dengan bentuk kelerengan variatif. Kabupaten Buru didominasi oleh kawasan pegunungan dengan elevasi rendah berlereng agak curam dengan kemiringan lereng kurang dari 40 % yang meliputi luas 15,43 % dari keseluruhan luas wilayah daerah ini. Jenis kelerengan lain yang mendominasi adalah elevasi rendah berlereng bergelombang serta agak curam dan elevasi sedang berlereng bergelombang dan agak curam dengan penyebaran lereng di bagian utara dan barat rata-rata berlereng curam. Sedangkan di bagian timur terutama di sekitar Sungai Waeapo merupakan daerah elevasi rendah dengan jenis lereng landai sampai agak curam.

               Sedangkan secara geomorfologis, bentang alam di Kabupaten Buru dapat dikelompokan menjadi 4 (empat), yaitu ; bentang alam asal vulkanik yang dicirikan dengan adanya topografi bergunung-gunung dan lereng terjal, bentang alam asal denudasional yang membentuk rangkaian pegunungan dan perbukitan berbentuk kubah, bentang alam asal solusial dan bentang alam asal fluvial yang cenderung membentuk topografi datar pada lembah-lembah sungai.

 

3.                         Geologi dan Jenis Tanah

 

               Kabupaten Buru merupakan salah satu kawasan di luar busur banda (jalur gunung api) dengan formasi geologi bervariasi antara batuan sedimen dan metamorfik yang berada pada bagian selatan, utara dan formasi deposisi di bagian timur laut, yang masing-masing dapat diuraikan sebagai berikut ;

 

a)                        Batuan Sedimen di bagian selatan yang kebanyakan dijumpai pada tempat-tempat dengan permukaan air yang dangkal,

b)                        Batuan Metamorfik yang mirip dengan tipe batuan benua yang meliputi filit, batu sabak, sekis, arkose serta greywacke meta yang dominan berada pada bagian utara Pulau Buru,

c)                         Endapan Batuan sedimen berumur neogen bagian atas ditemukan pada bagian timur laut sekitar Kawasan Waeapo tersusun dari endapan Aluvium dan Kolovium berupa bongkahan, kerikil, lanau, konglomerat, lumpur dan gambut. Sedangkan di sepanjang pantai utara terdapat jalur endapan pantai dan aluvio-kolovium yang diselingi dengan terumbu karang angkatan (uplifed coral reef).

 

               Sebagian besar tanah di Pulau Buru adalah jenis tanah kompleks, dimana persebaran jenis tanah ini meliputi ; alluvial, podsolik merah kuning, organosol, grumasol dan tanah-tanah kompleks. Peralihan antara formasi batuan sedimen dan metamorfik terdapat di Tanjung Bebek sekitar Waesabak dan Waenekat di bagian utara barat menuju Danau Rana bagian tengah ke arah Waeapo bagian hulu dan terus menyebar sampai ke Waeula dan Waenani di sekitar Tanjung Wamsaba bagian timur.

 

4.                         Hidrologi

 

               Secara umum, ditemukan dua pola drainase permukaan yaitu Pola Anastomatik pada bentang alam dataran termasuk kawasan dekat pantai dan Pola Dendritik pada bentang alam perbukitan dan pegunungan. Sungai-sungai besar dan kecil umumnya merupakan sungai hujan, hanya beberapa sungai besar yang mengalir sepanjang tahun dimana debit airnya dapat menurun drastis pada saat musim kemarau. Sedangkan untuk kebutuhan air bagi konsumsi, diusahakan dengan pemanfaatan air sumur dan pelayanan air bersih yang dipasok Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM).

               Sungai yang ada di Kabupaten Buru terdiri dari sungai yang mengalir sepanjang tahun dan sungai periodik, yang cukup banyak dan relatif cukup panjang. Sungai besar yang mengalir sepanjang tahun diantaranya; Sungai Waeapo, Sungai Waegeren dan Sungai Waenibe. Keadaan sungai-sungai tersebut sering juga mengalami penurunan debit air secara drastis pada saat terjadinya musim kemarau.

 

5.                         Klimatologi

 

               Iklim yang berlaku di Kabupaten Buru, yaitu low tropis yang dipengaruhi oleh angin musim serta berhubungan erat dengan lautan yang mengelilinginya. Selain itu, luas daratan yang berbeda-beda memungkinkan berlakunya iklim musim. Ciri umum dari curah hujan tahunan rata-rata dibagi dalam empat kelas untuk tiga wilayah, antara lain ;

o              Buru Bagian Utara                            :     1400 - 1800 mm / tahun,

o              Buru Bagian Tengah                         :     1800 - 2000 mm / tahun,

o              Buru Bagian Selatan                         :     2000 - 2500 mm / tahun,

o              Pada kawasan yang berelevasi lebih dari 500 m dpl dengan rata-rata 3000 – 4000 mm / tahun berkaitan erat dengan perubahan ketinggian yang dimulai dari zona pesisir, yang selanjutnya dapat diikuti pada bagian berikut. Sedangkan kondisi suhu rata-rata 260 C.

 

6.                         Vegetasi

 

               Dengan kondisi iklim yang tropis dan cukup hangat sepanjang tahun, berpengaruh alamiah terhadap pertumbuhan jenis vegetasi tanaman kayu putih (tanaman khas), selain itu kondisi alamnya relatif merangsang pertumbuhan jenis tanaman padi dan jenis tanaman hortikultura dan tanaman perkebunan lainnya. Sungai-sungai besar yang terletak pada Dataran Waeapo merupakan sumber irigasi bagi pengembangan lahan basah (persawahan). Sedangkan jenis tanaman kehutanan yang terdapat di Kabupaten Buru adalah jenis Meranti, Kayu Besi, Jati, Rotan dan Damar.

 

7.                         Penggunaan Lahan

 

               Penggunaan lahan di Kabupaten Buru dapat diklasifikasikan, menjadi ; Hutan Primer sekitar 59,98 %, dengan persentase persebaran terbesar terdapat di Kecamatan Air Buaya dan Kecamatan Waeapo, Hutan Sekunder sekitar 0,51 %, yang hanya terkonsentrasi di Kecamatan Batabual. Ketersediaan lahan Hutan Mangrove sekitar 0,90 %, yang teridentifikasi terdapat di Kecamatan Waeapo, Kecamatan Air Buaya, Kecamatan Namlea dan Kecamatan Batabual, sedangkan untuk Hutan Gambut sekitar 0,06 %, merupakan potensi hutan terkecil luasnya dan hanya terdapat di Kecamatan Batabual. Potensi Semak Belukar sekitar 23,10 % dan Lahan Terbuka sekitar 5,83 %, dimana teknis penggunaan lahannya kurang produktif yang terindikasi tersebar pada semua kecamatan. Penggunaan Lahan Persawahan sekitar 1,82 % yang terindikasi terdapat di Kecamatan Waeapo, Kecamatan Air Buaya, Kecamatan Batabual dan Kecamatan Waplau, Lahan Perkebunan sekitar 1,66 %, yang ketersediaannya terdapat di Kecamatan Waplau, Kecamatan Air Buaya dan Kecamatan Waeapo, sedangkan untuk Ladang/Tegalan sekitar 1,41 %, yang terindikasi terdapat di Kecamatan Air Buaya, Kecamatan Waeapo dan Kecamatan Batabual. Permukiman di Kabupaten Buru tersebar merata di semua Kecamatan dengan teknis berkelompok dan berpencar, dimana dapat dikategorikan menjadi kawasan permukiman perkampungan dan perkotaan sekitar 0,41%.

Pemutakhiran Terakhir ( Wednesday, 27 January 2010 )
 

LINK KABUPATEN/KOTA


Kota Ambon
 
 
Maluku Tenggara
 
Seram Bagian Timur

LINK - LINK

PRESIDEN SBY

INDONESIA

MPR

DPR

KPK

DEPDAGRI

DEPKOMINFO


Provinsi Maluku

TIPS DARI KAMI

Perkataan yang baik dan pemberian maaf lebih baik daripada sedekah yang diiringi dengan perkataan yang menyakitkan

Al-Baqarah: 263